Penulis: Bennyw10

4 Kelompok Masyarakat Non Papua Ini Membuktikan, Tidak Semua dari Mereka Menolak untuk Papua Merdeka


By 22:30:00
http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.dihaimoma.com/2017/05/4-kelompok-masyarakat-non-papua-ini.html&layout=standard&show_faces=false&width=100&action=like&font=tahoma&colorscheme=light

Dalam artikel ini, Dihai ingin mengulas sepintas tentang posisi  teman-teman non Papua saat ini dalam memandang persoalan tuntutan Papua merdeka yang terus mengusik Indonesia. Ulasan ini sekaligus betujuan mengajak pembaca untuk memahami bahwa tidak semua masyarakat non Papua khususnya di Indonesia yang menolak Papua untuk merdeka. Ada pulah dari mereka yang mendukung Papua untuk merdeka. Dukungan dan penolakan mereka tentu tidak terlepas dari berbagai sudut pandang yang telah mengakar sejak lama yang  juga  turut mempengaruhi tindakan mereka dalam menyikapi tuntutan Papua untuk merdeka.
Sebelum melangkah lebih jauh, Dihai membagi mereka kedalam 4 kelompok besar yang di dalamnya mencakup beberapa subkelompok. Setiap kelompok tampil dengan paradikmanya masing-masing dalam menilai dan memahami perjuangan Papua merdeka yang berlangsung selama setengah abad lebih ini. Berikut penjelasannya.
1. Mereka yang tidak memahami musabab mendasar persoalan tuntutan kemerdekaan Papua. Kelompok ini adalah mereka yang benar-benar tidak memahami hal yang melatar
belakangi Papua menuntut merdeka dari Indonesia.
Poin ini dirinci  kedalam empat subkelompok. Pertama Kelompok yang sama sekali tidak memahami akar persoalan, mengapa Papua menuntut merdeka? Mereka bukan hanya tidak mengetahui, tetapi tidak ingin tahu. Mereka sibuk dengan perkerjaan dan karirnya masing -masing.
Sederhananya, jangankan tentang isu Papua untuk merdeka. Letak Papua di Indonesia saja mereka tidak tahu. Papua itu dimana? Kamu dari Papua atau  Irian? Papua mata uangnya apa? Di sana masih pakai koteka ya? Di Papua makan nasi nggak? Mereka ini identik dengan kalimat-kalimat seperti ini.
Kedua kelompok yang tidak paham tapi berteriak NKRI harga mati. Kelompok ini tidak butuh penjelasan sama sekali dan tanpa imbalan sama sekali, mereka terus memperjuangkan agar negara ini tetap begini adanya dalam kesatuan, terlebih Papua dalam NKRI.
Artinya, mereka tidak butuh penjelasan tentang seperti apa latar belakang perjuangan Papua merdeka. Mereka tidak butuh ribuan nyawa orang Papua yang telah terbunuh akibat ula mereka sendiri yang tidak manusiawi dalam mempertahankan Papua. Mereka hanya tahu Papua adalah Indonesia.
Kelompok ketiga, adalah mereka yang tidak paham akan sejarah Papua dan latar belakangnya, tetapi karena beban moral akan korban berjuta nyawa orang Papua yang telah hilang ditelang waktu bersama siksaan dan pembunuhan yang terus terjadi di Papua sampai saat ini, maka mereka ingin Papua menentukan nasib sendiri. Mereka ini benar-benar mendukung Papua tanpa alasan dan imbalan.
2. Mereka yang benar-benar memahami hal-hal mendasar dari tuntutan Papua merdeka. Mereka paham akan masa lalu, mereka paham dan ikuti terus perjuangan kemerdekaan Papua sejak awal sampai saat ini.
Pada poin ini dibagi kedalam dua subkelompok. Pertama mereka yang paham akan sejarah gelap aneksasi Papua dan kekerasan pelanggaran Ham yang terus menyita ribuan nyawa orang Papua tetapi mereka  tidak ingin Papua lepas dari Indonesia. Mereka berkorban dengan sepenuh hati untuk orang Papua. Tujuannya tidak lain, agar Papua tetap berintegral dalam NKRI.
Kelompok ini juga kadang berjuang menuntut pemerintah Indonesia untuk memperhatikan Papua dengan berbagai program. Mereka tidak berjuang dengan kekerasan dan pembunuhan tetapi hal-hal yang identik dengan mereka  ini adalah pemeretaan pembangunan, pendidikan  dan sesehatan,  kesejahteraan dan kemajuan orang Papua.
Kebanyakan dari mereka ini adalah kelompok yang secara emosional telah terikat dengan orang Papua. Artinya, mereka tau berbagai hal yang telah dan sedang menimpa orang Papua. Mereka paham hal-hal mendasar mengapa orang Papua menuntut merdeka tetapi mereka berjuang dengan sepenuh hati dan tenaga agar Papua tetap dalam bingkai NKRI.
Kedua mereka yang paham akan semua dosa-dosa negara atas Papua tapi mau tidak mau, suka tidak suka Papua harus bagian dari NKRI, meski harus dibayar ribuan nyawa orang Papua. Mereka yang berada diposisi ini biasanya didorong oleh motif tertentu. Bisa berupa kepentingan mereka di Papua. Jika Papua merdeka  sama halnya dengan mengganggu mata pencaharian mereka.

Mereka ini identik dengan kedaulatan Indonesia atas Papua lebih penting dari pada nyawa orang Papua. Jangan heran meskipun orang Papua banyak mati ditangan aparat keamanan negara, mereka selalu diam tanpa kata dan tindakan.

Kelompok terkadang sulit dibedakan dengan kelompok satu subpoin dua, tetapi pada dasarnya mereka memiliki cara pandang yang berbeda dalam memahami Papua. Terlebih lagi, kelompok yang punya kepentingan ini dengan mudah mempengaruhi kelompok yang berada pada kelompok satu subpoin dua yang pada dasarnya tidak mengetahui alasan mendasar Papua berjuang.

Ketiga mereka yang  memahami alur sejarah Papua sejak awal hingga saat ini. Meraka ini benar-benar paham akan semua hal yang menimpa orang Papua akibat Indonesia mencaplok Papua dalam NKRI. Mereka selalu mengikuti tiap peristiwa yang terus terjadi di Papua dan mereka paham arah politik Indonesia dalam memperlakukan orang Papua, baik yang halus maupun yang kasar.

Satu hal yang identik dengan mereka ini adalah mereka berani mempertarukan diri meraka demi dan untuk kebebasan Papua dari Indonesia baik langsung maupun melalui referendum. Kekelompok  ini seperti warga negara Indonesia yang tergabung dalam Front Rakyat Indonesia untuk Papua Barat (FRI-West Papua) yang belum lama ini menyatakan dukungan agar Papua Barat bisa menentukan nasib sendiri melalui mekanisme referendum.

3. Mereka yang netral. Berdasarkan cara pandangnya, mereka inipun dibagi kedalam dua subkelompok.


Pertama netral karena paham akan sejarah sebenarnya dari kedua sudut pandang yang bertikai dan melihat persoalan Papua secara objektif. Mereka netral karena secara emosiol mereka memiliki hubungan yang erat dengan kedua kubuh.

Jika  terus mempertaankan Papua dalam Indonesia maka ribuan nyawa tidak berdosa akan dan sudah menjadi korban, Jika Papua lepas, akan berdampak besar terhadap Indonesia. Meraka tidak mendukung pihak manapun tetapi mereka juga tidak menolak hasil perjungan manapun. Baik indonesia yang berjuang Papua untuk tetap dalam indonesia atau Papua yang berjuang untuk lepas dari Indonesia.

Kedua netral karena tidak ada dampak sama sekali dalam kehidupannya. Artinya, Papua mau merdeka atau tidak, tidak akan berdampat bagi kehudupannya. Bahasa gaulnya, loe mau merdeka atau  tidak  urusan loe. Aku  akan tetap baik-baik saja.
4. Mereka yang situasional, dalam hal ini untuk mengejar satu hal. Mengamankan kepentingan di Papua.

Mereka yang mendukung Papua merdeka saat kepentingan mereka di Papua terancam. Menolak saat kepentingan mereka di Papua aman. Kebanyakan dari mereka ini adalah pengusaha dan juga oknum dalam pemerintah. Mereka ini tidak jarang mempengaruhi orang-orang Papua yang berpengaru di Papua menggunakan isu Papua merdeka untuk menakuti Pemerintah Indonesia. Kalau tidak kasih ya, Papua minta M. Mereka ini kadang memperalat orang Papua untuk melolosakan  dan mengamankan proyek dan saham mereka di Papua.

Sederhanyanya, mendukung Papua merdeka karena ada maunya dan menolak Papua merdeka juga karena ada maunya. Dukungan dan penolakan mereka yang situasional terjadi karena hanya satu tujuan akhir mereka. Mengamankan kepentingan mereka di Papua.

Kelompok ini bermain dibelakang layar 3P, Papua tipu Papua, Papua tipu Pusat, dan Pusat Tipu Papua. Mengapa itu teradi, semua karena punya kepentingan yang besar dalam penguasaan sumber daya alam  Papua. Ingat, bukan manusia Papua.

Dengan demikian itulah keempat kelompok masyarakat non Papua saat ini dalam melihat situasi tuntutan kemerdekaan Papua. Kita harus mengetahui bahwa saat ini tidak semua orag non Papua itu penjajah orang Papua. Merekapun terbagi dalam hal memahami dan menilai tuntutan Papua merdeka. Tidak semua orang non Papua khususnya di Indonesia mendukung Papua merdeka dan tidak semua juga menolak Papua untuk merdeka dan tentu hal itu terjadi karena cara pandang yang berbeda terhadap tuntutan rakyat Papua yang berlahan membuat mereka hampir musna.

Dia akhir artikel ini, jika anda yang  membaca artikel ini adalah non Papua apa tanggapan anda terhadap tuntutan rakyat Papua itu dan kalau orang Papua apa menurut anda?

Cara Mudah Mengamankan Data Blog, Woldpress.com dan Woldpress Self Hosted dari Serangan Hecker dan Pemblokiran


By 04:58:00

http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://www.dihaimoma.com/2017/06/cara-mudah-mengamankan-data-blog.html&layout=standard&show_faces=false&width=100&action=like&font=tahoma&colorscheme=light

Hallo! Salamat berjumpa lagi dengan saya, Dihai. Pada postingan artikel di blog serba ngawur kali ini. Saya akan berbagi 3 tips jitu mengamankan data blogspot, woldpress.com, dan woldpress.org dari serangan heacker ataupun juga dari pemblokiran oleh pihak om Google bagi sob yang menggunakan blogspot.
Emang bisa,  situs saya diblokir?

Sob Harus tahu pada dasarnya tidak ada satupun penguna internet yang dapat mengklaim dirinya aman dari serangan heacker dan pemblokiran oleh pihak google (khusus pengguna blogspot). Di dunia maya siapapun yang mengunkana fasilitas yang disediakan mesin pencari seperti email, blog, web atau pun segala hal yang berkaitan dengan sistem jaringan sangat rentang terhadap serangan seperti itu.

Masih tidak percaya? Ni saya sertakan bebera info serangan heacker dan pemblokiran situs web.

Percaya atau tidak, Hacker China, hanya membutuhkan waktu sementi untuk Bobol sisitem kemanan Google Pixel. Taukan Google pixlel? Handphone produk om google yang beberapa waktu lalu trend tu!. Bukan hanya itu gan, akun  Quora  CEO Google Sundar Pichai saja penah diheack. Uniknya lagi, Pelakunya diketahui adalah kelompok hacker yang pernah meretas akun Twitter dan Pinterest milik CEO Facebook Mark Zuckerberg. Masih dari  china, fasilitas seperti facebook, google, dan twitter itu sudah diblokir pemerinthanya dan masih banyak lagi.

Naah, dari kutipan di atas ini saja dapat  membuat kita bertanya seberapa aman situs kita saat ini. Intinya, kutipan di atas ini bukan untuk menakuti sob, tetapi hanya ingin mengajak sob membandingkan antara kita dan mereka. Sob! Mereka yang penguasaan IT-nya sudah tingkat dewa saja bisa dihack dan diblokir, apa lagi boca ingusan kayak kita ni apa jadinya sob hehehe.

Siapa pelakunya dan apa penyebabnya?

Bagi sob yang menggunakan Blogspot gratis tentunya tunduk sama undang-undang milik om Google. Pemblokiran dapat saja terjadi karena dua hal:
1. karena melanggar aturan/kebijakan yang telah ditetapkan om google.
Pada poin ini ketika dalam menggunakan blogspot,  jika kita melanggar aturan yang ditetapkan oleh google, maka om google tidak segan-segan mengadili kita dengan memblokir situs kita. Bukan hanya itu Gan, orang lain yang tentu tidak suka dengan blog dan artikel kita, dengan mudah melaporkan blog kita ke om google untuk ditindak.
Kok…Aneh Ya? Wong  udah gitu aturannya!
2. Blog kita diblokir karena ula Black Heacker dan tidak menutup kemungkinan White Heacker.
 Dua istilah  pada  poin dua di atas ini , pasti saja sob pernah mendengar!
 Tapi.. Kalau belum ni, saya jelasin secara singkat
Gini Sob, Black Heacker adalah mereka yang secara individu atau kelompok bergriliya di dunia maya untuk mencari dan mendapatkan keuntungan bagi klen mereka dari para user atau pengguna internet. Tapi… kalau White Heacker itu lawan dari Black Heacker yang tentunya melindungi sistem keamanan dunia maya dari serangan  Back Heacker.
Pertanyaannya mengapa White Heacker bisa memblokir situs web saya, pada hal musuhnya hanya Black Heaker?

Ingat sob, White Heacker biasanya bekerja dan mengabdi untuk melindungi suatu bangsa dan negara dari berbagai serangan yang berbaya di dunia maya. Itu artinya, tugas utama mereka melindungi bangsa dan negara bukan hanya dari serang Black Hecker tetapi juga mengontrol sistem informasi di dunia maya. Artinya, kalau isi dari situs sob dirasa bersebarangan paham dengan ideologi suatu negara yah, bisa  saja situs sobat dimusnakan tanpa kompromi.

Seperti itu kira-kira prosesnya!

Naaah…. bagi sob yang menggunakan blogspot, untuk melindungi dan mengantisifasi web anda dari sengan heacker dan pemblokiran. Anda perlu melakukan langkah-langkah berikut ini.
Pengguna Blogger

1. Menggunakan password  blog  yang rumit. Padukan PW anda dengan tanda seperti . , # */ dan juga kolaborasikan dengan angka dan huf.

2. Menggunakan Verifikasi tahap kedua di akun Gmail dengan nomor telpon anda. Tapi ingat, jangan sampai nomor anda hilang. Kalau hilang, sob harus ke grafari untuk mengurus kembali nomor anda, agar kode verifikasi tetap dikirim dan anda bisa masuk lagi ke blog sobat.

3. Jika anda pemberitahuan mencurigakan dari pihak om  google, segeralah ganti Password.
4. Ingat sob, ini yang paling penting. Setiap kali sob update blog dengan artikel, backuplah blogmu secara berkala. Ikuti petujuk pada gambar berikut ini.
Naah… ketika sob klik pada tahap tiga di atas, file XML dokumen akan terdownload. Setalah itu simpan file itu di PC sob dengan baik.
Mengapa?
Ya.. itulah keseluruhan data blogmu, ketika suatu saat anda di blokir atau diheack anda tidak perlu panik dan bersedih. Sumua data di blogspot anda aman, jadi anda tinggal membuat bog baru di blogspot atau bisa juga anda ekspor ke blog woldpress.com yang gratis ataupun membangun sebuah web profesional self hosted  di woldpress.org dari data tersebut.
Pengguna Woldpress.com,  alis blog gratis
 
Bagi pengguna Woldpress.com yang pastinya tidak berbeda jauh dengan pengguna blogspot karena masih terikat sama pihak woldpress jadi lakukan langkah-langkah berikut:
1.Lakukan pangamana pada sandi anda, seperti pada penjelasan di atas, pada poin 1
2.Ikuti langkah selanjutnya sesuai dengan gambar berikut. Langkah berikut ini serupa dengan langkah 4 pada poin 1.
Dihaimoma.com
Sumber: info-menarik.net
Sampai tehap ini file XML Document akan terunduh. Itu artinya, sob berhasil mengunduh semua file di blog woldpress.com milik sob. Mudah kan?
 
Pengguna Woldpress.org atau biasa juga mereka sebut self hosted

Pada penjelasan bagian ini saya anggap sob sudah paham tentang hosting, domain, CPanel, dan lain-lain. Saya langsung akan menuju pada langkah-langkah pengaman data atau backup data dari woldpress.org/domain TLD milik sobat.

Pertama masuk ke tempat anda menyewa hosting. Setalah itu, login ke CPanel dan klik pada ikon File Manager yang akan tampil. Setalah masuk, sob klik lagi pada Web Root (public_html/www). Dari situ akan muncul lagi beberapa foldel tetapi abaikan yang lain dan langsung menuju ke folder wp-content

Mengapa?

Karena yang sob hendak backup adalah semua konten yang ada dalam folder wp-content. Naa…sob klik wp-content yang ada dalam public_html tersebut. Setelah semua konten yang ada didalam folder wp-content terbuka, blok semua konten dengan menekan Ctrl pada keyboard. Selanjutnya, kalau semua konten sudah terpilih, maka klik Compress.

Ingat tentukan juga format isi semua konten yang ada di wp-content sesuai keinginan sob, tapi saran saya pakai saja format ZIP Archive. Naa…kalau sudah, sob tinggal menunggu sampai proses Compressnya selesai.

Setelah sob berhasil Compress file yang ada di dalam folder wp-content, maka dalam deretan file yang ada didalam folder wp-content akan muncul sebuah file baru (file hasil compress). klik file tersebut lalu klik juga Download untuk mengunduh atau melakukan backup wp-content WordPress Anda. Sampai pada tahap ini, sob sudah mengamankan konten web. Sejanjutnya, sob simpan baik-baik data tersebut di komputer, tentunya di tempat yang aman.

Catatan: Meskipun tampilan setiap penyedia hosting berbeda, prosesnya tetaplah sama, jika anda masih kurang mengerti dengan penjelasan di atas perhatikan prosesnya pada gambar berikut. Ingat, tampilan berikut ini setelah sob sudah masuk dalam CPanel. Klik pada gambar untuk memperjelas gambar.

Setelah tahap ini, masih ada satu tahap yang tidak kalah penting dengan tahap di atas, yaitu Backup MySQL Databases. Proses yang anda lakukan di atas tadi, hanya membackup semua konten yang ada di dalam folder wp-content. Na..selanjutnya, ikuti langkah-langkah membackup Databases MaySQL di WordPress melalui CPanel.

Seperti pada tahap sebelumnya, dari CPanel Sob klik lagi pada folder File Backup Wizard. Pada opsi Backup Wizard, pilih atau klik Backup. Pada opsi Select Partial Backup silahkan pilih atau klik MySQL Database. Di sini sob pilih domain database yang akan di download atau di backup. Setelah memilih domain database, otomatis akan melakukan download semua file MySQL Databases WordPress milik Sob. Jika sudah sampai pada tahap ini, selesai sudah Sob backup dua data penting WordPress domain TLD.

Kalau Sob masih kurang mengerti dengan pejelasan di atas, pertaikan prosesnya pada gambar berikut ini. Klik pada gambar untuk memperjelas gambar.

Dihaimoma

Simpan dan amankan juga file MySQL Databases dan simpan di tempat yang tadi anda gunakan untuk menyimpan file wp-content. Suatu saat jika terjadi hal yang tidak diinginkan, anda dengan mudah membangun web baru dengan data yang sudah anda simpan tadi. Tujuan utama dari penulisan artikel ini adalah menyelamatkan seluru data web anda.

Sebagi catatan: Jika suatu saat situs web anda yang sudah terkenal dengan traffic yang menggiurkan tetapi diblokir maka anda dapat memindahkan data-data tersebut pada web baru. Dan web baru yang hendak anda buat usahakan nama domainnya tidak terlalu berbeda dengan  alamat web lama anda.

Contoh: Jika nama domain lama, www.dihaimoma.com maka buatlah alamat barunya dengan nama http://www.dihaimoma.net atau http://www.dihaimomnulis.com. Langkah ini untuk mempermudah om google menampilkan web anda pada saat pengungjung setia di web anda mencari situs anda. Atau agar para pembaca setia di situs anda dengan mudah dan cepat mengenali situs web atau blog yang baru anda buat. Oyah Sob, soal blokir dan heacker situs web yang saya bahasa di sini bukannya saya mendoakan, tetapi hanya sekedar saran jika terjadi hal demikian  hehehe

Oke Sob, sampai di sini saya sudahi pembahasan kali ini. Soalnya, udah ngantuk. Semoga atikel ini membatu.

KOLONIAL NKRI BERNIAT MENGHABISI ORANG PAPUA


Posted on 13 November 2016

Indonesia Berniat Menghabisi Orang Papua?Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Sebaliknya pepatah itu tak berlaku bagi anggota Kepolisian Indonesia di Papua.

Berbagai media lokal dan nasional, bahkan media internasional melaporkan situasi kekerasan dan intimidasi Polisi Indonesia terhadap Orang Papua yang bermukim di Pulau Papua maupun luar Papua.

Di Papua misalnya, berbagai aksi damai rakyat Papua ditangkap, diculik, diperkosa, diintimidasi, diteror, bahkan dibunuh.

Peristiwa kekerasan dan intimidasi, menghilangkan nyawa orang Papua tersebut sudah berlangsung Sejak lama dari  tahun 1960an.

Ratusan aktivis dan ribuan simpatisan. Bahkan jutaan rakyat sipil di Papua, meninggal dunia akibat tindakan kekerasan Aparat Keamanan. Aksi kekerasan tersebut Dilakukan Oleh Negara yang diterapkan Melalui TNI, POLRI

Perangkat intelijen negara Indonesia didukung oleh gerakan sipil bersenjata dari Indonesia telah menjurus pada genoside orang Papua.

Mereka menyamar menjadi rakyat sipil. Tukang sapu, penjual es dan bakso. Pura-pura menjadi warga kecil di Papua. Mereka memata-matai setiap orang Papua. Orang Papua yang bersosialis demokrasi telah dilenyapkan.

Beragam upaya dan cara tersebut dilakukan Indonesia, dengan tujuan menguasai dan menjajah Orang Papua yang kaya dan raya dengan alam dan keanekaragam suku dan budaya natural. Tak ada gereja atau lembaga membelah orang Papua.

Kecuali Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Namun para aktivis KNPB juga terancam dan diancam bahkan dikejar dan dibunuh secara terus menerus. Mako Tabuni adalah salah satu dibalik sebagian besar korban di pihak orang Papua.

Republik Indonesia mengajarkan untuk menghabisi orang Papua. Polisi, militer, dengan segala antek-ntek kèbhinekaan Indonesia beroperasi kejam Tak manusiawi.

Paham pancasila hanyalah paham kamuflase di republik indo-melayu. Tak heran bila gerakan Papua merdeka memasuki tahap perjuangan yang lebih matang.

Sumber : (Melani Joung)  Aktivis Papua Merdeka.

Russia, US, Israel Must Join Forces Against Radical Islam, Netanyahu Says


Rivlin and Netanyahu urged Moscow to use its influence and military might in the region to help defeat Radical Islam during the Russian premier’s state visit to Israel this week, where he also held talks with the agricultural minister.

President Reuven Rivlin and Prime Minister Binyamin Netanyahu welcomed Russian Prime Minister Dmitry Medvedev to Israel Thursday, calling on Moscow to use its influence and military might in the region to fight Radical Islam.

Medvedev, on a state visit to celebrate the 25th anniversary of bilateral ties between the two countries, met with Rivlin and Opposition leader Yitzhak Herzog at the King David Hotel in Jerusalem, and later with Netanyahu at the Prime Minister’s Office.

“Russia has always had an important role in our region, perhaps today more than ever. We are faced by many challenges, and at the same time opportunities, and we need to be prepared for both,” stated Rivlin.

Netanyahu called on Russia to “seize the opportunities” of a changing Middle East and called for a Russian-Israeli-American pact to fight Radical Islam, adding that Israel is determined to prevent Iran from obtaining nuclear weapons.

“We are determined to do two things: first, to prevent Iran from acquiring nuclear weapons and the other to stop Iran from all involvement in Syria […] to ward off the establishment of an Iranian base in that country…

“[We are also working to] prevent Iran from consolidating its Shiite militias and of course, from arming Hezbollah with dangerous weapons that will be aimed against us,” Netanyahu stated.

Medvedev, Uri Ariel

Medvedev also held talks with Israeli Minister of Agriculture Uri Ariel at the Volcani Center at Beit Dagan, the research arm of the Ministry of Agriculture. The ministers also surveyed an exhibition of farm technologies such as unmanned spraying vehicles, computers showing irrigation levels, robotics to analyze health risks to cows that could have a negative impact on milk production and a series of whole wheat production solutions to destroy granary insects.

Russia is the fourth-largest wheat producing country in the world after the European Union, China and India, with 2016-2017 production of around 60 million metric tons.

The visit is the latest in a flurry of diplomatic activity between Moscow and Jerusalem. Earlier this week Chairman of the Knesset Foreign Affairs and Defense Committee MK Avi Dichter (Likud) headed a Knesset delegation delegation, and Deputy Prime Minister of Russia Arkady Dvorkovich came to Israel in September. In June, Agriculture Minister Ariel and his Russian counterpart, Alexander Nikolayevich Tkachyov, signed a memorandum of understanding to enhance cooperation between Israel and the Russian Federation in the field of agriculture.

The countries are also expected to draft agreements in the fields of water resource management and irrigation technologies, development of advanced greenhouses and storage of agricultural produce.

On Friday, Medvedev visited the Yad Vashem Holocaust Memorial and held talks with Yad Vashem Chairman Avner Shalev and Minister of Environmental Protection Ze’ev Elkin before concluding his visit with a tour of Jericho.

By: TPS

shutterstock_152856233

Do You Love Israel? Show Your Support!

Want to do something important for Israel? Make a donation to United with Israel, and help to educate and inspire millions around the world to support Israel too!

Now more than ever, Israel needs your help to fight the battle of public opinion. Israel’s enemies are using social media to incite brutal terror against innocent civilians. We need your help to fight back.

Help defend the truth about Israel to millions of people around the world. UWI also contributes to vital charity causes like building bomb shelters to protect Israeli citizens. Please show your support today!

CLICK HERE TO MAKE A DONATION

Makna 1 Desember 1961, Bagi Rakyat Papua


Rentetan perjuangan dengan gelimang pengorbanan sudah dan terus akan dilakukan oleh rakyat Papua Barat demi mencapai cita-cita pembebasan nasional Papua Barat dari cengkraman penjajah kolonial Indonesia dan kepentingan negara-negara dunia pertama. 1 Desember 1961, merupakan salah satu tonggak awal keinginan rakyat Papua Barat membebaskan diri dari penjajah. Pada momentum politis ini telah melahirkan “Manifesto Politik Papua Barat” menjadi landasan perjuangan pembebasan Papua Barat secara politik.
Awal perjuangan rakyat Papua Barat melawan penjajah, tak hanya karena 1 Desember 1961 tetapi jauh sebelum itu telah dimulai dengan perlawanan rakyat dengan gerilya hingga perjuangan politik yang diplomatis. Pada masa pendudukan Belanda, akhir 1940 bermunculan beberapa partai politik Papua Barat yang turut membangun kesadaran akan nasionalisme Papua Barat. Partai politik di Papua Barat saat itu yang tak ada hubungannya sama sekali dengan partai-partai yang ada di Belanda maupun Indonesia. Partai lokal lahir sesuai dengan kebutuhan dan kemauan politik rakyat di Tanah Papua Barat.
Kesadaran melawan penjajah secara politik juga turut melahirkan perlawanan bersenjata dengan bergerilya. Tonggak awal pencetusan berdirinya perjuangan bersenjata di Manokwari, Juli 1965 oleh para eks-pasukan Batalyon Papua (PVK = Papoea Vrijwilligers Korps). Tokoh pemimpin kharismatis gerakan ini adalah Johan Ariks, yang waktu itu sudah berumur 75 tahun. Johan Ariks juga sebelumnya terlibat dalam pendirian beberapa partai politik diantaranya; Gerakan Persatuan Nieuw Guinea dan Partai Demokraticshe Volkspartij (DVP).
Pada periode 1961 – 1970, selain dari pendirian partai Politik tidak hanya sebatas membangun kesadaran, tetapi juga untuk melawan militerisme Indonesia. Pada dekade ini terdapat 7 (tujuh) kali Operasi Militer yang digencarkan Indonesia untuk membasmi perlawanan dan kesadaran rakyat Papua Barat. Awal invasi militer Indonesia, ditandai dengan terbitnya Hukum Perang (Dektrit) Trikora pada akhir tahun 1961. Operasi Militer pertama kali dipimpin lansung oleh Mayor Ali Murtopo dan Benny Moerdani. Setelah tahun-tahun awal pada dekade ini, berikutnya muncul juga beberapa nama militer Indonesia yang memimpin dalam pembantaian rakyat Papua Barat, diantaranya A.Yani (Operasi Wisnumuri, 1963 -1965), R.Kartidjo (Operasi Sadar, 1965), R.Bintoro (Operasi Bharatyudha, 1966 – 1967) dan Sarwo Edi (Operasi Tumpas, 1967 – Operasi Wibawa 1967 – 1970).
Pelaksaaan Operasi Militer pada dekade 1961 – 1970 adalah ilegal menurut hukum Indonesia, karena pada saat itu Papua Barat belum resmi menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dapat diartikan sebagai penjajahan. Belakangan diketahui bahwa nafsu pendudukan militer Indonesia ini diboncengi dengan kepentingan imperialis, yaitu dilaksanakannya Kontrak Karya Freeport pada tahun 1967 sebelum pelaksaan referendum yang oleh Indonesia diubah menjadi Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) pada tahun 1969. Sebab akibat dari niat yang busuk Indonesia dan kroninya juga sangat mempengaruhi proses PEPERA, yaitu adanya pengubahan dari yang seharusnya, salah satu diantanya “Satu Orang, Satu Suara” menjadi “Dewan Musyawarah”. Akhirnya pelaksaan PEPERA pun tidak sesuai dengan kebiasaan hukum internasional dan melanggar Perjanjian New York tahun 1962. Sepihak oleh Indonesia rakyat Papua Barat dipilih dan ditentukan untuk memilih dalam PEPERA hanya 1025 Orang, dari kurang lebih 800.000 jiwa saat itu.
Pengalaman traumatik akan kekejaman militerisme Indonesia, tak menghentikan perlawanan rakyat Papua Barat untuk pembebasan nasional. Pada tanggal 1 Juli 1971, Seth Jafet Rumkorem bersama Jakob Prai, Jarisetou Jufuway dan Louis Wajoi mencetuskan “Proklamasi Kemerdekaan Papua Barat “, di Desa Waris (Marvic). Keinginan akan mendirikan negara sendiri pun terus bergema di pelosok bumi Papua Barat, sesudah tiga tahun Proklamasi di Marvic. Pada tanggal 3 Desember 1974, di Serui lahirlah deklarasi Negara Melanesia Barat yang meliputi Sorong – Samarai.
Salah satu peristiwa yang hingga kini masih terus dikenang rakyat Papua Barat adalah pembunuhan tokoh budayawan Papua, Arnold Clemens Ap, 26 April 1984. Arnold dibunuh karena ketakutan Militer Indonesia terhadap perannya yang turut membangun kesadaran akan nasionalisme Papua melalui gerakan musik-budaya “Mambesak”. Adapun keinginan rakyat Papua Barat untuk bebas dari cengkraman penjajah juga sudah dan akan terus melahirkan momentum politis, salah satu diantaranya deklarasi Negara Melanesia Barat pada tanggal 14 Desember 1988 oleh Dr. Thomas Wapai Wanggai.
Selain pertistiwa bersejarah, perlawanan rakyat Papua Barat terus dilakukan dengan aksi-aksi demontrasi, diplomasi, gerilya hingga pendirian kantor-kantor perwakilan perlawanan rakyat Papua Barat dibeberapa negara, untuk menggalang solidaritas masyarakat internasional dan mengkampanyekan kekejaman militer Indonesia.
1 Desember 1961, merupakan tonggak kesadaran nasionalisme Papua dengan melahirkan manifesto politik Papua secara terbuka. Dengan menetukan nama negara : Papua Barat, lagu kebangsaan : “Hai, Tanahku Papua” serta “Bintang Kejora” sebagai bendera nasional dan lambang Burung Mambruk dengan semboyan “One People One Soul”. Maka rakyat Papua sudah dan akan selalu memperingati setiap 1 Desember sebagai kemerdekaan terjajah yang telah melahirkan manifesto Politik Papua.
Hingga pada tahun 2015 ini, ratusan ribu rakyat Papua telah terbunuh dalam melawan dan karena kekejaman militer Indonesia, yang juga terus menyokong kepentingan negara dunia pertama. Hormat dan jabat erat untuk rakyat yang terus berlawan!! Hidup Rakyat!! Hidup Rakyat Papua!!
Selamat menyongsong 1 Desember 2015!!

Pejabat AS Beberkan Soal Freeport dan HAM Papua


Posted on 4 November 2016 Updated on 4 November 2016

Pejabat AS Beberkan Soal Freeport dan HAM Papua

Manado — Kuasa Usaha merangkap Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Brian McFeeters, membeberkan persoalan seputar hak asasi manusia dan perusahaan tambang Freeport di Papua kepada mahasiswa Universitas Sam Ratulangi, Manado, Rabu 2 November 2016. Kedua hal tersebut menjadi isu sentral dalam kuliah umum yang diberikan Brian di universitas tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Maximus Watung, salah satu mahasiswa pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi menanyakan pada Brian menyangkut perhatian pemerintah Amerika terhadap Freeport. Bukan apa-apa, kata Maximus, karena Freeport adalah perusahaan tambang yang berasal dari Negeri Paman Sam.

“Ini juga saya rangkaian dengan tanya menyangkut masalah-masalah pelanggaran HAM di Papua. Apakah pemerintah Amerika memperhatikannya,” kata dia, seraya menyebut pertanyaan itu mewakili sejumlah mahasiswa Papua yang mengenyam pendidikan tinggi di Unsrat.

Brian membenarkan bahwa Freeport berasal dari negaranya. Setahu dia perusahaan itu mempekerjakan 30 ribu tenaga kerja, namun aktivitas perusahaan itu tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintah Amerika.

“Freeport adalah perusahaan swasta, tidak ada hubungannya dengan kami, soal urusan Freeport dengan Indonesia kami kira itu adalah hubungan antara perusahaan dan pemerintah Indonesia,” ujarnya.

Terkait HAM, menurut dia setiap tahun pemerintah Amerika menerima laporan-laporan masalah itu dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Laporan dimaksud disusun secara objektif agar mereka bisa mengetahui kondisinya secara komprehensif.

“Kami mendorong agar isu-isu HAM terus didukung,” kata Brian.

Kedutaan Amerika berkunjung ke Unsrat untuk melakukan kuliah umum bertema agenda pemilihan presiden di Amerika Serikat. Ratusan mahasiswa Fakultas Hukum dan staf pengajar hadir dalam pertemuan itu.

Usai Brian menjelaskan sistem pemilihan politik di negaranya, berbagai pertanyaan segera diajukan para mahasiswa. Mereka menanyakan tentang peluang program pendidikan yang bisa dibiayai oleh pemerintah Amerika hingga isu-isu sentral menyangkut hubungan diplomatik, kepedulian terhadap lingkungan hingga masalah kemajemukan.

Pimpinan Fakultas Hukum Unsrat, Ralfie Pinasang, menegaskan perhatian Amerika terhadap dunia pendidikan tinggi di Manado sangat tinggi. Pilihan mengunjungi Unsrat diyakininya menunjukkan Amerika bisa memberi keleluasaan pada putra-putri yang akan berstudi di sana.

“Ini baru pertama kali dikunjungi Dubes Amerika dan kami merasa bangga,” kata Ralfie.

Sumber: http://www.tabloid-wani.com

Manusia Antropologi-Politik Papua


 (Bagian 1)

November 4, 2016

Oleh: Kris Ajoi

Pengantar

Pernyataan untuk mengawali tulisan ini ada pada kalimat “manusia Papua adalah manusia yang “berparas antropologi dan politik”. Argumen ini mengacu pada keseriusan penerapan antropologi dan politik sebagai ilmu maupun dalam praktisnya menempatkan manusia Papua sebagai pangkalnya.

Orang Papua menjadi bagian dalam menimbang dua paradigma itu. Antropologi menaruh posisi keseimbangan dan kemajuan pada manusia. Manusia sebagai pusat segala aktivitas dan agenda pembangunan dan sebagai latar inti pembangunan. Manusia yang merancang, manusia terkena dampak dan manusia pula yang menikmati dan menjaga keberlangsungannya. Begitupun praktik politik idealnya manusia menjadi aktor tunggal, sebagai subyek maupun obyek dari aktivitas pembangunan secara struktural dan mekanis (Afan Gaffar, 2004; Lidlle, 2011; Rowe & Schofield, 2000).

Hal yang sama kalau kita telisik sedikit sejarah, pernah diungkapkan oleh Dr. Halim, mantan Perdana Menteri Indonesia di era parlementer kepada Bung Karno di akhir surat terbukanya:

“Akhirnya saya ingin menyatakan, bahwa saya gembira ketika mendengar saudara menyatakan bahwa pengembalian Irian Barat kepada Indonesia merupakan ‘obsesi’ bagi saudara. Tetapi saya akan lebih gembira lagi kalau saya mendengar saudara menyatakan, bahwa kesejahteraan rakyat juga menjadi obsesi saudara. Saya berharap saudara membaca surat ini dengan semangat kejujuran” (Afan Gaffar, 2004: Hal 16).

Pendapat Dr. Halim juga memberitahu bahwa ambisi boleh saja, tetapi perlu diimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan karena Papua termasuk wilayah kepulauan lain jangan sampai nasibnya miris seperti saat ini. Selain Papua dibekali dengan struktur dan sistem kebudayaan tersendiri cara mengelola kehidupan orang Papua dengan mekanisme adatnya juga ikut berpengaruh.

Artikel ini membicarakan variasi kehidupan orang Papua yang sangat memprihatinkan sekaligus butuh perhatian. Keprihatinan dan perhatian kepada Orang Papua dekat sekali dengan paras antropologi dan politik. Dimana orang Papua dalam dua pandangan ini mengalami gejolak persoalan dan konflik di satu sisi, sehingga di situlah sarana kebangkitan Papua. Diperlukan tinjauan kritis lebih mendalam tentunya untuk membicarakan hal ini, tetapi secara relatif kehidupan di Papua mengisahkan kenyataan bahwa antropologi dan politik membutuhkan penjelasan dari realitas masyarakatnya.

Saya sadar bahwa sebagai orang Papua obyektifitas tentu jadi prioritas dan obyektifitas yang berasal dari sisi teoritis maupun keadaan di Papua, bukan berasal dari cara pandang masing-masing pihak.

Antropologi dan Politik

Umumnya pusat segala akal budi manusia bertumpu kembali pada manusia. Antropologi dan politik memprakarsai dua pokok konsep pembangunan manusia. Yang satu (antropologi) membentuk pola pikir manusia sebagai pusat pengetahuan untuk membangun kebudayaan. Di satu sisi, kebudayaan manusia memerlukan sarana pengakuan dan keabsahan untuk membentuk sistem dan struktur yang diformulasikan dan dijalankan melalui mekanisme tertentu.

Di Papua, orang Papua tidak bisa mengkonsepkan pemahaman mereka tentang apa itu politik, tetapi mereka melakukan tindakan politik itu secara nyata. Bahkan dibalik praktik itu terselip instrumen-instrumen kebudayaan.

Diskusi politik dalam praktik kebudayaan yang terjadi di Papua memiliki variasi khusus yang perlu dipetakan.

Pertama, kecenderungan masyarakat untuk membawa institusi kultural mereka (Orang Papua) ke dalam kepentingan publik (politik) sebagai bagian dari tindakan politik. Dalam arti sederhana, masyarakat Papua ingin agar mereka memiliki akses kesejahteraan, sehingga keterlibatan mereka tidak hanya sebagai individu, tetapi ikut melibatkan segala ide, cipta karsa dan rasa (kebudayaan) baik secara obyektif maupun yang masih ditafsirkan secara sepihak (subyektif).

Kedua, dari pikiran sampai imajinasi politik mereka itu kemudian diturunkan dalam praktek kebiasaan sehari-hari melalui perilaku individu dan kelompok. Cerita rakyat orang Papua sudah diubah menjadi cerita-cerita tentang bakal calon dan siapa kandidat terkuat pada Pemilukada di tiap-tiap daerah di mana mereka tinggal. Mereka bahkan menggunakan bahasa kiasan mereka seperti ketika upacara adat tertentu untuk mengangkat isu politik yang sedang terjadi. Cerita yang berbau politik mengalir dalam setiap praktik kebudayaan. Di sana (Papua) pola pikir, tingkah laku dan kebiasaan kolektif membawa mereka ke dalam kebudayaan demokrasi dengan model kehidupan yang sedikit berbeda dari kehidupan aslinya.

Ketiga, masyarakat Papua memperlihatkan kecenderungan bahwa refleksi politik lahir dari praktik kebudayaan masyarakat yakni realitas sosial, ekonomi, politik, dan keagamaan.

Keempat, realitas kebudayaan yang kaya itu membantu orang Papua memiliki kesadaran bahwa mereka memiliki budaya bersama dan budaya membawa mereka pada kesepakatan politik.

Orang Papua pada umumnya memiliki prinsip tidak mau mengatur dan tidak mudah diatur karena prinsip kemerdekaan diri. Kekuatan klan dan ikatan genealogi (pertalian darah) hingga kepemilikan wilayah menjadi sumber daya yang memperkuat budaya bersama. Budaya bersama bisa kita saksikan dalam upacara-upacara tertentu yang menghadirkan seluruh ikatan pertalian darah maupun keturunan yang masih memiliki garis kebudayaan yang sama. Semua perkara itu menjadi keunggulan bagi perubahan politik pada tataran ide dan praktik karena Orang Papua bukan lagi pemain cadangan.

Para cendekiawan politik di Yunani, Romawi hingga seluruh Eropa memperlihatkan hal itu dengan jelas. Termasuk pengalaman hibridasi dengan kebudayaan di Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Sebagian besar daya dan pikiran mereka di Agora (alun-alun kota/pasar di Yunani) membicarakan masalah-masalah untuk dapat memperbaiki kondisi dan situasi di negara itu.

Aktivitas itu dilakukan di dalam sistem dan mekanisme yang terlembaga, sehingga saluran aspirasi itu sampai kepada pemimpin mereka. Negara-kota (polis) di Yunani pada masa itu merupakan Tirani Demokratis yang menjadi contoh dan kiblatnya pemikiran-pemikiran tentang politik terutama konsep negara, pemimpin dan sistem maupun mekanisme jalannya organisasi yang dapat memproteksi maupun meresolusi setiap persoalan kemanusiaan.

Lagi-lagi tujuan utamanya yaitu manusia yang disebut rakyat, warga negara dan masyarakat dapat memperoleh derajat tertingginya sebagai manusia. Tokoh-tokoh mereka, Plato, Aristoteles dan tentunya Socrates guru kedua orang itu dengan jelas membicarakan konsep-konsep bermasyarakat atau berwarganegara dengan amat sistematis dengan menempatkan manusia (warga negara) sebagai pangkal (Lih: Bertrand Russel, 2002).

Idealisme-idealisme politik menjadi bagian penting dari pemikiran mereka meski ada perdebatan soal spesifikasi dari negara, pemimpin dan sistem politik. Jadi, politik itu secara tidak langsung bertujuan dan memang dilandasi dengan alasan-alasan kemanusiaan yang juga didengungkan oleh antroposentrisme dalam antropologi. Politik diadopsi dari pola hidup negara-kota (polis) di Yunani yang kemudian diejawantahkan menjadi policy (english) yang berarti kebijakan dan berasal dari kata dasar bijak. Sehingga tidak ada politik yang kotor, busuk, atau bau dan mengandung makna negatif. Yang mengandung makna negatif adalah buruknya realitas sosial, sedangkan politik hadir untuk memperbaharui kehidupan sosial itu melalui sistem dan mekanisme bernegara secara bijak melalui kebijakan politik.

Di saat yang sama, paham-paham antroposentisme terus menuntun politik dalam praktiknya sehingga manusia tetaplah manusia dan tidak berubah makna dan nilainya. Manusia betul betul menjadi someone (manusia) bukan something (benda). Keberadaan itu dibuktikan melalui interaksi dan percakapan-percakapan budaya, termasuk segala cipta, karya dan rasa yang sifatnya material, sehingga eksistensi manusia bisa dirasakan nyata. Termasuk pengakuan terhadap hak-hak politik.

Gagasan politik dapat ditempatkan dalam koridor kebudayaan masyarakatnya, kemudian politik terbungkus di balik kebiasaan yang berbudaya secara praktis sesuai cara-cara yang mana kebudayaan ditempatkan. Dalam hal ini politik bisa membentuk kebudayaan atau paling tidak membantu kebudayaan menemukan daya dan kekuatan untuk tetap eksis dan berkembang.

Kebudayaan di satu sisi dapat pula merobek tataran struktur dan mekanisme politik. Hal itu terlihat jelas ketika orang Papua dalam keberadaannya sebagai pemilik kebudayaan Papua berusaha melindungi dan menjadi agen penyelamat kebudayaan dengan cara terjun dalam kehidupan politik. Tujuannya tidak lain membentuk pertahanan berupa aturan (konstitusional) maupun kelembagaan (institusional), sehingga kebudayaan dan segala hal yang berasal dari ciptaan kolektif Orang Papua tersalurkan dengan baik di dalam mekanisme penyelenggaraan pemerintahan negara dan diakui kebudayaan lain.

Antropologi dan politik pada akhirnya dilihat sebagai dua disiplin pemikiran yang berbeda, tetapi memiliki satu keutuhan watak pemikiran pokok, yakni manusia sebagai pusat mahkluk politik (yang disebut Aristoteles: zoon politicon) dan kebudayaan. Dalam hal itu, bolehlah kita menyebut orang Papua sebagai manusia antro-politik baik dalam tataran ide maupun kehidupan nyata. Memiliki kehidupan yang dekat dengan alam, mampu membentuk pola kehidupan dengan aturan adat yang kuat, bahkan memiliki moral bersama yang bisa menjadikan mereka tetap menjadi Orang Papua.

Orang Papua sebagai Pangkal Antropologi dan Politik Papua

Keadaan yang dapat kita saksikan di Papua terlihat lewat cerita tahun 2014 ketika berkunjung ke Jayapura dan bercerita dengan seorang Frater yang sekarang bertugas di Keuskupan Agats, Asmat. Kepada saya, kakak ini bercerita bagaimana seharusnya Papua itu dimasuki dengan cara-cara kemanusiaan termasuk manusia Papua yang perlu diakui dengan segala kebudayaan hasil ciptaannya yakni dengan cara bijak dan manusia sebagai pangkalnya.

Pelajaran penting dari percakapan saya dengan kakak frater itu menjelaskan dua cara masuk ke Papua. Cara pertama masuk tanpa permisi dan cara yang kedua masuk minta permisi. Cara yang kedua inilah yang memberitahu sebenarnya pentingnya antropologi di Papua. Hal itu terlihat dalam pengembangan pendidikan Papua, konsep kebudayaan Papua menjadi faktor penentu utama kemajuan pendidikan dan kehidupan lainya. Itulah yang dikembangkan oleh beberapa perguruan tinggi di Papua, terutama Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” yang ada di Padang Bulan, Jayapura. Tempat ini menjadi pintu masuk basis data bagi siapa saja yang ingin mengetahui banyak tentang Papua. Beberapa mata kuliah seperti antropologi dan filsafat memiliki tahapan yang perlu ditempuh mahasiswa, sehingga memungkinkan melihat Papua secara detil dan menyeluruh.

Gereja Katolik di Papua punya aspek kepedulian yang besar terhadap kemajuan pendidikan Papua, dan termasuk mendukung antropologi budaya menjadi basis cara pandang ulung, selain metode-metode lain. Pendekatan kebudayaan dalam pola kehidupan masyarakat itulah yang diadopsi ke dalam sistem pendidikan dan tata kelola Gereja termasuk perayaan-perayaan ibadah dengan konsep budaya, bahasa, dan berbagai karya seni untuk puji-pujian.

Hal yang sama bisa kita lihat pada jebolan-jebolan sekolah Misionaris atau Zending, mereka memiliki kepekaan praktis yang lebih dibanding hanya berbekal ide. Mereka cenderung lebih berbudaya dibanding gaya pembangunan dari luar. Aspek lain misalnya, menganalisis cara kerja Jaringan Damai Papua (JDP) yang dikomandoi oleh Pastor Neles Tebai, menjadi bagian penting dalam melihat keselamatan umat Tuhan (manusia) di Papua.

Sehingga pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan budaya menurut budaya Jawa, musyawarah-mufakat (dialog) yang digagas. Itu membuktikan bahwa orang Papua sangat paham politik kebudayaan yang diturunkan melalui kebudayaan politik nasional negara Indonesia. Budaya Jawa menjadi budaya nasional, sehingga segala sesuatu termasuk upaya politis perlu dilakukan dengan cara pendekatan budaya, tentunya budaya nasional (Jawa).

Penjelasan yang campur aduk itu belum lengkap kalau tidak melihat strategi pendidikan dan metode-metode pendekatan budaya dalam membangun pola pikir sesuai kebudayaan Papua. Di Antropologi Unipa (Universitas Papua) metode penelitian antropologi Papua sudah dikembangkan dan hal itu menjadi sangat positif manfaatnya. Meski dalam tataran keilmuan, tentu sesuai koridor penelitian dan perspektif ilmu pengetahuan akan sangat ditentang oleh penetrasi pandangan-pandangan nasional maupun global yang masih mendominasi keilmuan di Papua.

Tetapi sebagai pendidikan kritis yang berpihak pada sisi kemanusiaan, hal itu sangat rasional dilakukan, termasuk memperkaya khasanah keilmuan di Papua. Tidak seperti penelitian Papua di tahun 1950an-60an yang masih menempatkan orang Papua bukan sebagai orang Papua seperti Boelaars, 1957, 1986; Miedema, 1984; Kamma, 1971, 1981, 1982, 1993; Karl Muller. Meski penelitian mereka memberikan makna akademis pada kebudayaan Papua, tetapi kemudian memunculkan politik pemisahaan oleh penguasa dan kelompok-kelompok kepentingan di Papua.

Lebih jauh tanggapan politik yang dilakukan oleh orang Papua sejak menerima Otsus tahun 2001 (UU No. 21/2001) di Jakarta, merupakan langkah strategis dalam memperhatikan stabilitas keamanan Papua dan kecenderungan kembalinya kekuatan lama (militer Orde Baru). Meskipun keamanan masyarakat adatnya menjadi kacau-balau.

Pada tahun 2009 hingga saat ini, satu kabupaten di Papua memberikan penetrasi politik melalui sistem pemilihan Noken, di tahun 2017 nanti pada pemilihan umum kepala daerah, ada enam kabupaten yang akan menggunakan sistem pemilihan Noken. Sistem Noken merupakan strategi pemilihan untuk menunjang kepentingan kesejahteraan masyarakat asli dalam hal distribusi kesejahteraan melalui kebijakan politik, dan atas dasar dukungan UU 21/2001 (Otsus), maka Noken sah digunakan sebagai satu metode pemilihan yang bijak.

Hal itu jelas saat mendengar penjelasan penulis buku Noken, sistem pemilihan di Papua oleh seorang mahasiswa STPMD “APMD” di UGM pada sebuah seminar di tahun 2015. Akhirnya jelas bahwa srategi kebudayaan yang digunakan baik dalam praktik ilmu pengetahuan maupun upaya-upaya pengembalian hak-hak orang Papua antropologi dan politik menjadi buah imajinasi orang Papua dan telah memasuki era penerapannya.

Tahun 2001, paska Otsus, kita bisa juga menyaksikan ratusan mobilisasi politik pada setiap pemilihan umum di tingkat lokal maupun nasional. Pemilu kepala daerah diantaranya yang sangat menonjol memperlihatkan bagaimana institusi adat dan dikomandoi oleh kepala-kepala suku memainkan posisi sebagai pion-pion penadah suara dari masa politik saat kampanye hingga proses pemilihan.

Tidak sedikit kasus kekerasan yang ditimbulkan akibat praktek ini. Tetapi hal penting yang dapat ditarik dari sini adalah melihat institusi adat dan institusi politik itu tidak ada bedanya. Baik dari aktor maupun pola-pola pengelolaan dan mobilitas politiknya dipraktekan dengan cara-cara yang sama, bahkan sulit dibedakan dengan praktik nepotisme dan kolusi. Sudah hampir lima belas tahun kita bisa menyaksikan bagaimana politik menciptakan ruang kosong dan kemudian adat mengisi ruang politik itu sebagai ajang investasi politik.

Penutup

Manusia dapat diatur dan dibudayakan jika mereka memiliki sistem dan mekanisme yang menuntun bagaimana mereka hidup. Cliffort Geertz 1981, Anderson, 2001, termasuk Max Lane, menceritakan dengan jelas bagaimana perpolitikan Indonesia didominasi oleh kebudayaan Jawa. Mulai dari praktik kepemimpinan hingga pembagian kelas-kelas sosial menonjol dipraktekan oleh pemimpin-pemimpin Indonesia. Soekarno hingga Soeharto melegitimasi budaya nasional yang sangat kental dengan nuansa Jawa-nya. Strategi itu digunakan oleh Soekarno maupun Soeharto untuk memaksakan upaya membedakan ideologi ke-Indonesia-an dengan ideologi Barat termasuk struktur kebudayaannya.

Praktik model ini bisa kita lihat sisa-sisa peninggalannya yang masih ada saat ini. Maka itulah pengkajian Papua membutuhkan konsep politik dan antropologi sebagai dua tools inti stabilitas masyarakat. Stabilitas pertama, adalah stabilitas nasional dan kesepahaman secara menyeluruh mengenai Papua yang utuh dan satu. Stabilitas kedua, stabilitas pertahanan kebudayaan di tingkat kekuasaan-kekuasaan adat berdasarkan tradisi masing-masing kelompok suku.

Bersambung

Penulis adalah staf pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah.