Suku Asli di Filipina Tuntut Hak Menentukan Nasib Sendiri


http://www.facebook.com/plugins/follow?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fanakfakfak&layout=standard&show_faces=false&colorscheme=light&width=450&height=30

Suku Lumad and Moro dari Lakbayan Mindanao bertemu dengan suku Mangyan dan Dumagat dari Tagalog Selatan di Calamba City, Laguna pada 12 Oktober 2016 (Foto: Kitanglad Multimedia Collective)
MANILA,  – Sejumlah suku-suku asli di Filipina merencanakan unjuk rasa lepas tengah hari pada hari ini (13/10) menuntut hak menentukan nasib sendiri.
Tanggal 12 Oktober adalah hari tibanya Columbus di Benua Amerika. Namun, oleh para aktivis, kini sedang diperjuangkan untuk menjadi Hari Penduduk Asli atau Hari Masyarakat Adat (Indigenous People Day).
Di antara suku-suku yang akan turun ke jalan di Manila adalah suku Moro dan suku-suku lain dari wilayah Selatan. Mereka telah tiba di Manila dan untuk pertama kalinya bersatu menuntut diberikannya kepada kelompok minoritas hak menentukan nasib sendiri, dan menentang militerisasi di wilayah nenek moyang mereka.
Dengan tema “Perjalanan Minoritas Bangsa menuju Penentuan Nasib Sendiri dan Perdamaian,” direncanakan setidaknya 3.000 orang akan turun ke jalan berunjuk rasa di Mendiola dekat Istana Malacanang, seperti diberitakan oleh bulatlat.com.
Gabungan suku-suku asli dari berbagai wilayah di negara itu, bersama suku Moro dari Mindanao, akan menyampaikan dukungan kepada Presiden Duterte atas kemandirian politik luar negerinya dan komitmennya pada negosiasi damai.
Pada saat yang sama, mereka juga menuntut aksi nyata untuk melindungi wilayah nenek moyang mereka dari penjarahan kekuatan asing. Mereka juga meminta Duterte untuk melindungi rakyat mereka dari Oplan Byanihan, yaitu operasi yang dilancarkan oleh tentara Filipina untuk menumpas pemberontakan bersenjata.
“Kami mendesak Presiden Duterte untuk mewujudkan janjinya mengubah rakyat Filipina, yang mencakup membuat perubahan berarti bagi saudara-saudara kita yang termarginalkan dan terpinggirkan,” kata Piya Macliing Malayao, sekretaris jenderal Kalipunan ng Katutubong Mamamayan ng Pilipinas (Katribu).
Suku-suku asli di Filipina mencapai 10 sampai 15 persen dari jumlah penduduk. Suku Moro, di antaranya, mencapai 5 persen.
Katribu mengatakan tentara dan kelompok paramiliter terus berkeliaran, bahkan membangun markas di wilayah mereka. Rakyat Lumad di Surigao del Sur, Davao del Norte dan Bukidnon telah kembali ke rumah dari pengungsian mereka. Namun, serangan terhadap pemimpin suku asli masih terus terjadi di Mindanao dan di tempat lain.
Kemarin, pemimpin petani Mandaya, Jimmy Saypan, meninggal di rumah sakit karena luka, sehari setelah ia ditembak oleh orang-rang bersenjata yang mengendarai sepeda motor di Montevista, Lembah Compostela. Saypan, 48, adalah sekretaris jenderal Asosiasi Petani Compostela  (CFA), yang sangat menentang masuknya Agusan Petroleum Corporation (Agpet) ke wilayah adat  Lumad di Compostela.
Konfederasi Pasaka dari Organisasi Lumad  telah mengutuk pembunuhan itu dan mereka menyalahkan batalion infanteri ke-66. Militer menuduh Saypan dan pemimpin CFA lainnya sebagai anggota Tentara Rakyat Baru (NPA), kelompok bersenjata pemberontak.
Katribu juga menyatakan dukungan untuk pembicaraan damai antara pemerintah dan Front Demokratik Nasional Filipina (NDFP). Mereka berpendapat agenda substantif pada reformasi sosial dan ekonomi serta reformasi politik dan konstitusional, harus memasukkan hak untuk tanah leluhur dan hak untuk menentukan nasib sendiri.
Kemarin warga dari suku Cordillerans, Aytas, Dumagats, Ibannags dan suku-suku lain dari daerah Cordillera, Ilocos dan Lembah Cagayan, bertemu dengan warga dari Central Luzon dan menggelar aksi protes di markas Komando Luzon Utara di Tarlac City, Tarlac.
Kemarin juga berlangsung konferensi regional di  UP Los Baños, Laguna, yang diselenggarakan oleh Bigkis di Lakas ng mga Katutubo sa Timog Katagalugan (Persatuan dan Kekuatan Masyarakat Adat Tagalog Tenggara, atau Balatik) dengan suku Mangyan dari Mindoro, suku Dumagats dari Rizal, suku Quezon dan Laguna, dan suku Pala’wans dari Palawan.
Di Calamba City, Laguna kemarin juga ada pertemuan antara delegasi dari Tagalog Selatan dengan berbagai suku lainnya.
Sementara besok dan lusa, kelompok-kelompok itu akan mengadakan pertemuan untuk pembentukan Sandugo, Gerakan Suku Moro dan Masyarakat Adat untuk Penentuan Nasib Sendiri.
Sumber: Satuharapan.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s