Integrasi Papua di Indonesia Hanya Ada Dalam Militer dan Elit


Integrasi Papua di Indonesia Hanya Ada Dalam Militer dan Elit

Aktivis HAM Papua, Markus Haluk - IST
Aktivis HAM Papua, Markus Haluk – IST

Jayapura, Jubi – Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Papua, Markus Haluk menegaskan, integrasi Papua di Indonesia hanya ada dalam benak militer dan segelintir elit politik yang haus dan serakah. Mereka selalu paksakan bahwa Papua bagian dari Indonesia merupakan pikiran rakyat Indonesia, terutama Papua.

“Lebih jauh bahwa rakyat Indonesia tetap memandang bangsa Papua dengan mereka berbeda dari semua aspek, entah sosiobudaya, antrologis, sejarah, religi dan kosmologi. Kenyataan ini telah disangkal 55 tahun. Tetapi Indonesia tidak berhasil,” kata Markus Haluk kepada Jubi melalui telepon selulernya, Kamis (11/08/2016) menanggapi pernyataan Bambang Purwoko, Ketua Kelompok Kerja Papua UGM, yang menyebutkan “Jangan lihat Papua dengan logika Jawa”.

Paska ULMWP diterima sebagai observer di MSG sejujurnya Indonesia mesti akui bangsa Papua secara utuh, bahwa Papua adalah Melanesia, dengan mendukung ULMWP diterima sebagai anggota penuh MSG dan memberikan kesempatan kepada rakyat West Papua untuk hak penentuan nasib sendiri bagi kemerdekaan dan kedaulatan penuh (meskipun menyakitkan elit dan militer).

“Itu baru akan tergenapi apa yang dikatakan dosen UGM tadi bahwa Papua tidak dipandang dengan cara pandang Jawa” ujarnya.

Lanjutnya, 10 hari lagi Indonesia akan rayakan HUT RI yang ke 71. Namun, cita-cita Indonesia Merdeka belum terwujud dan tidak akan terwujud selama hak bangsa Papua disangkal sebagai suatu bangsa dan terus mengalami pembunuhan dan pelanggaran HAM dari waktu ke waktu. Saya yakin pasti rakyat Indonesia akan damai sejahtera sesuai Proklamasi 17 Agutus 45, UUD 45 dan sila ke-5 Pancasila apabila elit politik dan militer mengakui West Papua sebagai bangsa yang punya hak berdaulat,” katanya.

Ketua Kelompok Kerja Papua Universitas Gadjah Mada, Bambang Purwoko mengatakan, berempatilah dengan melihat orang Papua dari latar belakang sosial dan budayanya.

“Tolong juga pahami bahwa orang Papua itu tidak satu tipe. Ada 320 subetnis dengan 300-an lebih suku dan bahasa di Papua. Satu kampung bisa terdiri dari beberapa kelompok penutur bahasa yang berbeda,” ujar Bambang dalam wawancara dengan salah satu media nasional baru-baru ini.

Ia memberikan contoh harga di wilayah pegunungan Papua sangat mahal. Semen Rp2 juta, air mineral 600 mililiter Rp30 ribu, air mineral 300 mililiter Rp20 ribu, beras Rp50 ribu. Masyarakat miskin jadi dipaksa membayar mahal untuk kebutuhan dasarnya.

“Negara tidak hadir untuk masyarakat Papua. Kami (Pokja Papua UGM) berupaya memperjuangkan Papua dari ketertinggalan pendidikan, kesulitan mengakses layanan kesehatan, harga yang mahal. Ini berkali-kali dikomunikasikan ke Presiden dan beliau paham. Tapi menteri-menterinya, tak semua punya komitmen sama. Kalau tidak ditangani serius, efek-efek kekecewaan akan meletup. Merdeka bukan cuma persoalan ideologi, tapi juga terpenuhi atau tidak terpenuhinya kebutuhan dasar,” tegasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s