“The Journey of Our Nation”


Kliping koran tentang penolakan Pepera pada tahun 1969 - IST
Kliping koran tentang penolakan Pepera pada tahun 1969 – IST

Oleh : Pdt. Dr. Benny Giay

Tulisan ini merupakan versi Bahasa Indonesia dari tulisan berbahasa Inggris yang telah terbit di the Asia Pacific Report, the PNG Post Courier, dan Solomon Star.

Sejumlah perkembangan terkini di Papua, di Indonesia, maupun di Pasifik, mengantar saya pada permenungan mendalam bahwa kami bangsa Papua barangkali belum beranjak dari posisi kami selama lima dekade terakhir dalam hubungan dengan Indonesia.

Perjalanan bangsa kami untuk keluar dari dominasi dan kekerasan yang menindas menuju masa depan yang  lebih baik masih mengalami banyak tantangan, sebagaimana terlihat dalam berbagai peristiwa akhir-akhir ini.

Pertama, sebagai tanggapan reaksioner atas tuntutan rakyat Papua sekaligus keputusan (dan barangkali tekanan) dari MSG untuk mengirim Misi Pencari Fakta melalui Pacific Islands Forum, Pemerintah Indonesia sudah dua kali mengadakan focus group discussions (FGD) di hotel mewah di Jayapura untuk apa yang disebut ‘penyelesaian masalah HAM’.

FGD ini disponsori oleh Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan yang beberapa waktu lalu justru merendahkan martabat bangsa Papua dengan pernyataan kontroversial: ” Sudah, pergi saja sana ke Melanesia. Tidak usah tinggal di Indonesia lagi”.

Pernyataan mantan jendral Kopasus ini ditujukan untuk gerakan kemerdekaan Papua yang tergabung dalam ULMWP (the United Liberation Movement for West Papua), organisasi yang menjadi representasi perjuangan dan aspirasi bangsa Papua. Nadanya mengingatkan kita akan pernyataan Jendral Ali Moertopo pada tahun 1969. “Kalau orang Papua mau merdeka, minta Amerika cari satu pulau di bulan dan tinggal di sana.”

Aktivis KNPB dalam truk Polisi dibawa ke Mako Bri-mob dari Expo Waena (Jubi/Mawel)
Aktivis KNPB dalam truk polisi dibawa ke Mako Brimob dari Expo Waena (Jubi/Mawel)

Perkembangan  kedua yg terjadi bersamaan dengan FGD tadi ialah aksi demonstrasi damai yang digelar rakyat Papua di beberapa kota untuk mendukung ULMWP diterima sebagai anggota penuh MSG, yang dihadapi TNI/POLRI dengan menggunakan siasat represi terhadap para demonstran: penangkapan-penangkapan, pemukulan, teror, dan lain-lain.

Pada tanggal 2 Mei lalu, sekitar 2000 orang ditangkap dalam sebuah aksi damai yang difasilitasi oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Ini merupakan salah satu penangkapan terbesar dalam sejarah bangsa Papua dan menunjukkan bahwa siasat Jakarta belum berubah.

Ketiga, seiring dengan meningkatnya kepedulian dan solidaritas dari kawasan Pasifik dan dukungan dari MSG untuk penyelesaian persoalan Papua, pemerintah Indonesia aktif melakukan lobi di Pasifik.

Jenderal Pandjaitan, sekembalinya dari kunjungan ke PNG dan Fiji berkoar-koar bahwa pihaknya bisa menangani MSG sehingga dia merasa seperti di atas angin, toh dia sudah amankan  FIJI & PNG. Pada saat yang sama, Pandjaitan juga menegaskan bahwa pihak lain (luar) tidak boleh mencampuri urusan hak asasi manusia di Papua.

Keempat, tanpa mendengarkan berbagai kritik atas kekejaman pembangunan di Papua, Jakarta terus saja mengintensifkan pembangunan dengan model yang menjadikan kami masyarakat Papua sebagai obyek, tanpa membiarkan kami menjadi subyek yang menentukan masa depan kami sendiri.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia, Luhut B. Panjaitan memberikan bantuan secara simbolik untuk perbaikan pasca topan kepada Perdana Menteri Frank Bainimarama - Fiji Sun
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia, Luhut B. Panjaitan memberikan bantuan secara simbolik untuk perbaikan pasca topan kepada Perdana Menteri Frank Bainimarama – Fiji Sun

Apa arti perkembangan ini bagi masyarakat Papua?

Pertama-tama, kami bangsa Papua barangkali kurang beruntung. Sejarah tidak berpihak ke kami. Matahari sudah herhenti bersinar di atas tanah leluhur kami. Sejak awal 1960an itu “tanah kami telah diubah menjadi “tanah ratapan dan duka anak-anak  mama-mama kami “. Papua terus dikondisikan sebagai “situs penindasan secara sistemik”.

Namun, kami tidak tinggal diam. Kami bersikap, menjadikan diri kami subyek sejarah, mempertahankan martabat, dan terus berjuang. Ini terjadi di semua lini. Masyarakat baik yang terdidik maupun tidak terlibat menyikapi kehancuran ini. Penolakan terhadap kekuatan mematikan dan merusak bangsa kami dinyatakan dengan menggunakan berbagai siasat: gerilya (OPM),  gerakan mesianis, LSM dengan gerakan HAM-nya, media dengan jurnalismenya, Arnold Ap dan gerakan kulturalnya, gerakan massa seperti KNPB, gereja dengan suara kritisnya menelanjangi kebijakan publik yg degeneratif terhadap Papua, dan lain-lain.

Bangsa yang Mengungsi

Selain bertahan dan berjuang melakukan perubahan di dalam negeri, sebagian masyarakat Papua harus mengungsi. Pada tahun 1960an terjadi gelombang pengungsian ke negeri Belanda.

Selain itu, negara-negara sesama Melanesia di Pasifik menjadi tujuan pelarian sejak 1960an sampai 1990an. Selain masyarakat biasa, para aktivis politik juga mencari perlindungan politik ke PNG, Vanuatu, Australia, Eropa, dan lain sebagainya.

Pada tahun 1969 saja, sejumlah kira-kira 3000 orang Papua mengungsi ke PNG. Hal yang sama terjadi pada tahun 1977. Osborne (2001) dan Smith (1988) memperkirakan antara 1500-3000 orang Papua menyeberang ke PNG dan negara-negara lain.

Benny Wenda bersama para pengungsi dari Papua di Vanimo tahun 2013 - freewestpapua.org
Benny Wenda bersama para pengungsi dari Papua di Vanimo tahun 2013 – freewestpapua.org

Sejarah kami bangsa Papua bisa ditulis sebagai sejarah bangsa yang mengungsi. Bangsa yang ditindas  dan diusir dari negeri kami sendiri, bangsa yang sedang berjalan menemukan jatidiri, bangsa yang sedang menuju tanah terjanji.

Perjalanan kami adalah kisah bangsa yang mati dan tenggelam dalam pelarian ke Vanimo, kisah bangsa yang berjalan siang dan malam demi mencapai negeri kebebasan.

Kami mengucapkan terimakasih kepada saudara-saudari Melanesia kami di Pasifik yang tiada lelah memberikan dukungan dan solidaritas.

Kami berterima kasih kepada para pemimpin Gereja-gereja dan masyarakat sipil di negara-negara Melanesia. Kami berterima kasih kepada Uskup Vanimo yang menyediakan tanah bagi jemaat kami, ketika di tanah kami sendiri gereja-gereja tidak berdaya menyelamatkan umat Tuhan.

Kami mengucapkan terimakasih untuk pemerintah Vanuatu yang telah berusaha menyatukan berbagai faksi perjuangan kami. Kami berterimakasih kepada Perdana Menteri Solomon Islands yang menawarkan diri untuk memediasi dialog yang otentik antara ULMWP dan pemerintah Indonesia.

Kami berterima kasih kepada pimpinan MSG yang menerima Papua dalam persaudaraan Melanesia.

Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Manasseh Sogavare saat menemui delegasi ULMWP usai upacara pembukaan MSG - Jubi/Victor Mambor
Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Manasseh Sogavare saat menemui delegasi ULMWP usai upacara pembukaan MSG – Jubi/Victor Mambor

Namun kami pun meminta  maaf. Kami meminta maaf atas kehadiran bangsa Papua yang mengungsi ke Pasifik yang barangkali mengganggu kenyamanan  dan sempat menyebabkan gesekan-gesekan dengan masyarakat Saudara-Saudari. Kami meminta maaf karena ketidakberdayaan kami yang memaksa saudara-saudari di Pasifik ikut bersolider dan memikul beban kami.

Kami mohon maaf karena beban perjuangan bangsa kami telah menjadi beban saudara-saudara di sana juga. Kami meminta maaf karena perjuangan kami mempengaruhi dinamika politik bangsa-bangsa Melanesia dalam hubungan dengan bangsa-bangsa lain.

Ini semua adalah konsekuensi dari sejarah dan Tuhan yang  masih membisu terhadap nasib bangsa Papua yg terus begitu.

Sekaligus, kami angkat topi dan berterima kasih kepada para pimpinan adat, pimpinan gereja, media, pejabat politik dan pemerintahan, masyarakat sipil, media, kelompok perempuan, kaum intelektual, serta semua dan setiap orang di Pasifik, dan solidaritas internasional atas Papua Barat di Afrika, Australia, Eropa, Amerika, dan Indonesia yang sudah sedang menunjukkan solidaritas dalam perjalanan bangsa kami.

Penulis adalah ketua Sinode Gereja Kingmi di Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s